
Rintik derai tempias, menghantarkanku pada-Nya.
Senja di mana engkau kembali kepadaku.
Menyerukan lantang, bahwa inilah tanah air kita.
Kami Putra Putri Indonesia.
Mengaku bertumpah-darah mengabdi pada tanah ini.
Menjadikan kita satu, tanah air Indonesia.
Meski ia di sana, datang dari barat.
Ia yang satu berucap, mengelana dari timur.
Meski berbeda, haruskah engkau memandang jabat tanganku sinis?
Kami Putra Putri Indonesia.
Memiliki ikatan bangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Aku iramakan pena di jemari, menari lembut pada selembar kertas usang ini.
Menuliskan kosa kata yang kalian sebut ‘kuno’.
Apa salahnya bibirku menyeru bahasa Ibu?
Bahasa Indonesia, sebagai bahasa persatuan kita.
Kini telah sampailah aku, di akhir perjuangan tinta hitam.
“Kami Putra Putri Indonesia.”
Menuliskan anganku di atasnya.